real
		time web analytics
Teknologi Tak Serta Merta Lumpuhkan Fungsi Manusia

TOP CAREER – Pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi membuat keresahan tersendiri soal isu sosial yang mungkin timbul, yakni pengangguran. Contohlah industri pabrik yang kini banyak diperbantukan mesin ketimbang tenaga manusia. Beberapa kalangan pun menilai perkembangan teknologi tidak serta merta memusnahkan fungsi manusia.

Ambil contoh lainnya di industri keuangan dan perbankan. Seiring majunya teknologi, maka kini hadir industri financial technology atau fintech. Munculnya industri ini memang menjamin efisiensi dalam melakukan transaksi keuangan, juga lebih praktis.

Rektor Perbanas Institute, Marsudi Wahyu Kisworo menyampaikan, meski perkembangan teknologi  telah menyentuh industri keuangan dan perbankan hingga muncul fintech, namun sumber daya manusia di bidang itu tetap tidak akan terganti oleh peran teknologi.

“Jadi, ada beberapa fungsi nanti hilang, tapi timbul fungsi baru. IT itu enggak pernah menggantikan posisi manusia. Jadi, yang terjadi itu shifting, pekerjaan manusia digantikan komputer, tapi nanti ada pekerjaan-pekerjaan baru,” kata Marsudi kepada TopCareer.id.

Sementara, Senior Executive Vice President (SEVP) Global Treasury PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Hexana Tri Sasongko menyampaikan bahwa pengurangan tenaga kerja itu satu konsekuensi yang wajar ketika berkaitan dengan teknologi.

Menurut Hexana, perlahan memang industri keuangan dan perbankan akan berbasis IT untuk mencapai efisiensi dan kecepatan pelayanan, tetapi perlu diingat bahwa IT hanya merupakan alat penunjang pekerjaan saja, bukan segalanya. Hal itu berarti IT tidak bisa menggeser fungsi manusianya.

“IT it’s a tools, not everything. Bank itu dituntut untuk efisien agar kompetitif supaya operation cost-nya rendah. Melalui teknologi, bentuknya akan lebih smart dan efisien,” ujar Hexana yang pernah menjabat sebagai SEVP IT Strategy and Satelite BRI.

Ia menambahkan, dalam konteks Indonesia, harus dilihat pula secara ekosistemnya. Karena ada yang namanya segmentasi. Saat ini tidak bisa disamaratakan semua serba teknologi, meski akan ke arah sana. Bagaimana layanan kelompok tertentu, seperti di Indonesia bagian timur?

“Tidak bisa disamaratakan, maturity-nya berbeda. Someday memang semua akan efisien. Tetapi jangan dilupakan orang yang di marginal, low education,” ucap dia kepada TopCareer.id beberapa waktu lalu.

Untuk itu, tambah dia, ada financial inclusion yang menyediakan layanan keuangan kepada masyarakat lapisan bawah yang tidak akan dilayani oleh bank-bank kelas atas.

Lagi-lagi, kata Hexana, dari segi jumlah tenaga kerja akan berkurang, namun nantinya yang dilihat adalah tenaga kerja terampilnya seperti apa. Oleh karena itu, harus ada yang memperhatikan siapa yang unskill. Semua harus balancing, jika tidak maka muncul isu pengangguran tersebut.

“Malah akan ada profesional-perofesional baru yang bisa meng-create sesuatu untuk mengontrol teknologi tersebut. Profesional baru yang bakal dibutuhkan, seperti netwok engineer, ada programming, dan banyak lagi,” ucap Hexana.

Sehingga tenaga-tenaga di bidang IT perbankan dan keuangan itu akan sangat dibutuhkan ke depannya. Apalagi jika dikaitkan dengan industri fintech yang kini makin bertumbuh. Bahkan, untuk mendukung itu, Indonesia perlu menyiapkan tenaga terampil ini, demi memenuhi produktivitas IT masa depan.

Marsudi Wahyu Kisworo menambahkan, Perbanas memiliki fakultas Teknologi Informasi yang fokusnya untuk menghadapi dunia perbankan masa depan yang serba teknologi. Jadi, arahan materi perkuliahannya pun termasuk industri fintech.

“Kalau IT di tempat lain kan ngomong IT secara umum. Tapi kalau di kami (Perbanas) bicara security perbankan, bicara uang digital, bicara tentang jaringan ATM. IT kami fokusnya ke perbankan dan keuangan. Jadi semua aspek itu, kalau fintech kan salah satu aja,” kata Marsudi.

Ia menyampaikan bahwa dari 123 bank umum, 33 bank daerah, Indonesia masih saja kekurangan 1.000 orang di industri perbankan dan keuangan khusus IT di tiap tahunnya. Jadi, lulusan Perbanas diharapkan bisa meminimalisasi kekurangan tersebut.

Sejauh ini, lanjut dia, 80 persen lulusan Perbanas bisa terjun ke industri pebankan dan keuangan. Dan tiap tahun meluluskan 200-300 orang. Serapannya pun sudah sesuai yang diharapkan, yakni mayoritas di perbankan.

“Jadi ada yang di asuransi, pasar modal, dan perbankan, itu semua 80 persen. Perbanas itu lulusannya punya masa tunggu kerja tidak lebih dari satu bulan, maksimal 1 bulan.”