real
		time web analytics
Pertaruhan Beasiswa dari Keringat Rakyat

TOP CAREER – Banyak yang meyakini pendidikan bisa mengubah kasta suatu negara. Tak heran beragam elemen berlomba mencari pendidikan terbaik. Tujuannya sederhana, mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Beasiswa pun dilirik menjadi kendaraan untuk mengantarkan tujuan itu. Sadar akan itu negara ikut serta. Beasiswa dari keringat rakyat menjadi pertaruhannya.

Fakta bicara ada 3.221 perguruan tinggi umum diseluruh Indonesia. Sementara perguruan tinggi agama berada diangka 1.020. Dari keduanya, setiap tahun rata-rata ada sekitar 750.000 orang lulusan yang siap masuk ke pasar kerja. 

Sayangnya, peningkatan lulusan perguruan tinggi tidak sebanding dengan serapan lapangan kerja.  Sampai dengan Agustus 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi yang bekerja sebanyak 14,57 juta (12,24%) dari 118,41 juta orang yang bekerja. Sementara itu, tenaga kerja berpendidikan tinggi yang menganggur mencapai 787.000 (11,19%) dari total 7,03 juta penganggur.

Itu untuk urusan pendidikan tinggi. Jika dilihat dari indeks daya saing 2016, Indonesia masih terpaksa gigit jari. Indonesia turun ke peringkat 41 dari 138 negara. Angka itu merosot jika dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada peringkat 37.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Anggaran untuk pendidikan ditingkatkan. Tujuan mulianya tentu agar seluruh kehidupan masyarakat Indonesia membaik. Presiden Joko Widodo belum lama ini bahkan menginstruksikan Menteri Keuangan untuk membentuk dana abadi pendidikan.

Dana abadi pendidikan ini bertujuan untuk mengelola dana investasi pendidikan bagi generasi yang akan datang. Menteri keuangan (Menkeu) memperkirakan bahwa bila dimulai dari sekarang, pada tahun 2030 mendatang Indonesia akan memiliki dana abadi pendidikan sekitar Rp400 triliun.

Sebelum instruksi itu, pemerintah sendiri juga sudah memiliki program beasiswa yang dinamakan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kemenkeu melalui LPDP mengalokasikan anggaran Rp22,5 triliun untuk program beasiswa. Anggaran tersebut didapat dari penerimaan pajak negara. Dana itu kemudian tidak digelontorkan langsung untuk program beasiswa tetapi disimpan terlebih dahulu ke produk investasi yang aman seperti deposito. Bunga hasil investasi tersebut yang kemudian digunakan untuk program beasiswa oleh LPDP.

“Uang (beasiswa) LPDP berasal dari APBN, bukan dari utang, dia adalah uang dari keringat rakyat Indonesia, uang pajak rakyat Indonesia untuk membangun republik,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam acara penyambutan alumni LPDP di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena sumber pendanaan berasal dari kantong rakyat, Menkeu dengan tegas meminta seluruh alumni penerima beasiswa LPDP yang biasa disebut dengan awardee agar membayar kepercayaan negara dengan berkontribusi penuh membangun republik.

Dana yang diambil dari kantong rakyat untuk beasiswa ini memang tidak sedikit. Direktur Utama LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Eko Prasetyo berujar negara mengalokasikan rata-rata Rp200 juta-Rp300 juta per awardee magister di dalam negeri. Sedangkan, untuk program doktor mencapai Rp700 juta-Rp800 juta.

Sementara untuk penerima beasiswa magister di luar negeri dana alokasi mencapai Rp1 miliar per orang. Sedangkan untuk beasiswa doktor mencapai Rp2 miliar per orang. 

Sayangnya dengan dana yang begitu besar, negara tidak membuat kontrak resmi dengan para awardee untuk bekerja di pemerintahan. "Kontrak itu terpatri dipikiran dan sanubari Anda (para awardee), tidak dengan tanda tangan di atas materai. jadi Anda harus menjadi pejuang yang militan untuk Indonesia," ujar Menkeu dalam satu kesempatan. 

Tapi apakah nantinya fakta dilapangan akan seperti harapan pemerintah? Sedikit menengok kebelakang, LPDP sudah lima tahun memberikan beasiswa magister dan doktor. LPDP memberikan beasiswa kepada mereka yang telah lolos seleksi untuk melanjutkan studinya di universitas baik di dalam dan luar negeri. 

Mereka yang berhasil lolos mendapatkan beasiswa LPDP akan mendapatkan dua kompenen pembiayaan. Pertama adalah biaya pendidikan dan kedua adalah biaya pendukung. Biaya pendidikan meliputi pendaftaran, biaya kuliah semester, dan biaya tunjangan hingga wisuda.

Kedua, biaya pendukung yang terdiri dari biaya di luar sektor pendidikan. Biaya yang ditanggung LPDP diluar pendidikan meliputi transportasi termasuk keberangkatan dan kepulangan studi dari daerah asal ke universitas tujuan. Selain itu, awardee juga mendapatkan asuransi kesehatan, baya visa, biaya hidup bulanan, hingga insentif lainnya.

Menurut catatan Eko, sebagian besar penerima beasiswa memilih universitas yang ada di Eropa dan Amerika. Awardee umumnya tertarik mempelajari bidang-bidang yang tidak ada di Indonesia atau yang sudah ada namun belum berstandar internasional. Selain di luar negeri banyak juga awardee yang melanjutkan sekolah di dalam negeri.

"Untuk di dalam negeri tentu saja yang sudah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional. Yang favorit seperti UGM, UI, dan ITB," katanya.

Sejauh ini LPDP telah memberikan progam beasiswa kepada 16.295 orang. Beasiswa tersebut terdiri dari 10.523 penerima beasiswa program magister, 3.864 program doktor, 1.540 program tesis/disertasi, dan 366 program dokter spesialis.

Sebanyak 1.452 alumni dari keseluruhan penerimaan beasiswa tersebut sudah kembali ke Indonesia. Dari 1.452 alumni tersebut, 503 berkarier sebagai akademisi, 380 di sektor swasta, 117 di sektor publik, 45 di wirausaha, 35 di BUMN/BUMD, 47 di sektor sosial/NGO, 20 TNI/POLRI, dan 310 fresh graduate.

 

Berkontribusi untuk Indonesia dengan menjadi awardee?

Peserta beasiswa LPDP sering ditanya soal kontribusi apa yang akan dilakukan setelah selesai studi untuk Indonesia. Stephanie Dwi Guna sebagai awardee mencoba memberikan kontribusinya di bidang pendidikan meski kini masih studi di University of Wollongong, Australia.

Berangkat dari pengalaman yang menjadikan satu-satunya awardee dari Provinsi Riau di PK LPDP angkatan 39, Stephanie merasa ada ketimpangan bahwa Provinsi Riau hanya mampu meloloskan puluhan awardee dari ribuan peserta yang masuk. 

Sebelum pergi studi ke Australia, Stephanie mendirikan Kelas Persiapan Beasiswa (KPB) di kota Pekanbaru, Riau. Hal itu dilakukannya demi mendukung peningkatan pendidikan Indonesia melalui kemudahan memperoleh beasiswa. “Kelas tersebut merupakan sebuah kelas non profit di mana mempersiapkan peserta untuk mengikuti berbagai seleksi beasiswa,” kata Stephanie kepada TopCareer.id.

Di kelas tersebut, kata Stephanie, peserta akan memperoleh berbagai informasi mengenai berbagai kesempatan beasiswa, kelas pembuatan esai dan CV, tips dan trik memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dari universitas luar negeri, kelas kepribadian, simulasi Leaderless Group Discussion (LGD), simulasi interview, serta pengalaman melakukan aksi sosial.

“Saat ini KPB masih berjalan dan akan dilaksanakan KPB batch 6 di bulan ini yang dikelola sendiri oleh alumni peserta KPB. KPB tidak berhenti diadakan walau pendiri dan pelaksana awal sudah tidak terlalu ikut campur lagi.” 

Ia menyampaikan, kini KPB sudah mampu mengikutkan beberapa pesertanya untuk seleksi beasiswa. Kegiatan KPB tak hanya mempelajari soal seleksi beasiswa, namun kegiatan sosial lainnya juga tengah digalakkan, seperti aktif dalam aksi penggalangan dana untuk korban bencana.

Bagi kalian yang ingin lolos seleksi tahapan beasiswa LPDP, Stephanie memberikan beberapa tipsnya. Pertama, dalam hal tips membuat tiga esai yang menjadi persyaratan administrasi dalam proses seleksi LPDP. Ia mengungkapkan, esai tidak perlu dibuat berlembar-lembar, yang penting jelas, singkat, dan tepat sasaran. Esai ditulis dengan panjang 500-700 kata.

Dalam esai yang bertema “Peranku bagi Indonesia”, peserta diharapkan menjelaskan mengenai peran yang telah dilakukan bagi Indonesia, lalu peran yang sedang dijalani, dan tentunya rencana untuk berkontribusi lebih jauh bagi Indonesia. “Di esai ini saya membagi peran saya di tiga bidang yaitu bidang pendidikan, kesehatan, serta sosial kemasyarakatan,” ujarnya.

Kemudian untuk esai bertema “Sukses Terbesar dalam Hidup”, Stephanie memberikan saran untuk menjelaskan daftar prestasi yang telah diraih. Namun, bagi beberapa awardee, esai ini hanya menjelaskan satu prestasi terbaik yang pernah diraih.

Sementara, untuk esai “Rencana Studi” tentu berisi penjelasan seputar universitas yang dituju, lalu mengapa memilih universitas tersebut, jurusan yang diambil, kemudian menjelaskan secara garis besar bagaimana menjalani pendidikan tersebut nantinya. Pada esai ini juga perlu dijelaskan rencana pasca studi setelah menyelesaikan pendidikan.

Tips berikutnya yang bisa dibagi adalah saat proses wawancara. Stephanie menyarankan agar peserta menguasai esai yang telah dibuat sebelumnya karena pertanyaan interviewer tidak akan jauh dari esai tersebut serta pribadi peserta.

Dan untuk peserta yang mengambil beasiswa luar negeri, wawancara akan menggunakan bahasa Inggris, sehingga kemampuan speaking sangat dibutuhkan.

“Contohnya, pada saat interview peserta harus mampu meyakinkan interviewer dengan kepribadiannya, penguasaan esai terutama rencana studi. Pada saat LGD peserta harus memiliki kemampuan berdiskusi yang baik, cara menyampaikan pendapat dan menyanggah pendapat orang lain yang benar.”

Selanjutnya, dalam tahap seleksi substantif, ada yang namanya proses Leaderless Group Discussion (LGD). Tahap seleksi LGD ini, beberapa peserta dikumpulkan dalam satu ruangan untuk melakukan diskusi berdasarkan tema yang ditentukan oleh tim penilai. Stephanie menganjurkan dalam 15 menit waktu tunggu ini, peserta bisa mengenal satu sama lain karena hal itu bisa membantu kelancaran dalam seleksi LGD.

Hal yang diperlukan untuk lolos tahap LGD, yaitu pengetahuan umum yang cukup karena tema yang diberikan mencakup isu-isu  hangat dan umum. Tema yang diberikan tidak sesuai spesialisasi peserta karena satu kelompok LGD terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan. “Tema LGD saya waktu itu ialah mengenai hukuman mati bagi koruptor,” ucap Stephanie.

Stephanie mengingatkan, sebelum memilih beasiswa luar negeri atau dalam negeri, peserta diharapkan memahami terlebih dahulu seluk beluk universitas yang ingin dituju. Peserta perlu melakukan riset negara mana yang lebih baik pendidikannya di bidang tersebut. Peserta juga harus mempertimbangkan persyaratan dari universitas yang dituju, apakah bisa dipenuhi atau tidak.

“Saya sebagai dosen yang ingin melanjutkan pendidikan dengan jurusan keperawatan, pilihannya terbatas karena ada beberapa negara yang meminta sertifikat RN (register nurse) dari negara tujuan untuk bisa menjadi mahasiswa masters of nursing. Australia adalah salah satu negara yang tidak mewajibkan mahasiswa masters of nursing terdaftar terlebih dulu sebagai perawat di Australia.”

Setelah lolos tahap seleksi substantif, peserta sudah dianggap lulus seluruh seleksi LPDP dan menjadi awardee LPDP. Namun, agar para awardee lebih matang dalam menjalani studi,  peserta harus mengikuti tahapan persiapan keberangkatan (PK), yakni semacam karantina selama satu minggu sebelum berangkat kuliah.

“Kelompok PK, kapan dan di mana dilaksanakan ditentukan oleh pihak LPDP. Bekal yang diperoleh, yaitu semangat nasionalisme serta tips dan trik bertahan menyelesaikan studi baik di dalam maupun di luar negeri. PK juga membangun suatu jejaring sosial bagi sesama awardee serta mengajarkan prinsip kepemimpinan, kerja sama dan disiplin,” ungkap Stephanie.

Sementara, setelah menjalani studi sebagai awardee, ada ketentuan yang harus dilakukan, di antaranya harus melakukan pelaporan akademik selama kuliah, serta tidak boleh bekerja saat kuliah. 

COMMENT
500

Topcareer.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE