real
		time web analytics
Diaspora E-Class, Sumbang Kontribusi dari Luar Negeri

TOP CAREER – Membangun Tanah Air, tak melulu soal diplomasi dalam negeri. Meski jauh dari rumah, bukan berarti para diaspora tak bisa ikut berkontribusi. Lantaran peduli, para diaspora ini lantas membuat organisasi demi memberikan beragam informasi serta inspirasi untuk mengembangkan pendidikan anak-anak di Ibu Pertiwi.

Organisasi itu diberi nama Diaspora E-Class, yang memang tujuannya untuk berbagi pengalaman hingga ilmu berguna bagi anak-anak Indonesia yang tengah menempuh pendidikan sekolah ataupun yang tidak. Organisasi ini tentu saja bersifat nonprofit, dan pengajarnya pun berbasis volunteer.

Ridzki Samsulhadi sebagai Vice President (VP) of Operation Diaspora E-Class menyampaikan bahwa program utamanya memang merekrut diaspora yang ada di luar negeri untuk mengadakan kelas online melalui aplikasi Skype kepada anak-anak Indonesia.

“Jadi anak sekolahan itu sendiri kami ngincernya dari komunitas marginal. Banyak partner kami itu, yayasan atau panti asuhan. Atau sekolah-sekolah yang masih disponsori oleh organisasi sosial, kayak Dompet Dhuafa,” kata Ridzki kepada TopCareer.id.

Ia menjelaskan, fokus utama dari kelas online itu sendiri bukanlah untuk mengajar suatu pelajaran tertentu atau yang sifatnya akademik. Namun, lebih kepada berbagi pengalaman, berbagi informasi, untuk membuka wawasan agar murid-murid kelas online ini bisa bermimpi tinggi untuk bersekolah, bahkan berkarier di luar negeri.

“Karena anak-anak seperti itu kan mereka kebanyakan berpikir, jangankan kebayang sekolah di luar negeri, kebayang untuk selesai sekolah saja belum tentu. Makanya kami bantu dengan membangun inspirasi yang tinggi agar mereka bisa bermimpi, dan berusaha mencapai mimpi itu,” papar pria yang pernah berkuliah di Kanada ini.

Ridzki menambahkan, selama sesi sharing bersama murid-murid kelas online, Diaspora E-Class selalu mendorong para volunteer melakukan percakapan dalam bahasa Inggris. Hal itu dimaksudkan agar para siswa yang ikut kelas online bisa sekalian belajar meningkatkan kemampuan bahasa internasional itu.

“Cuma kadang bahasa Indonesia juga sih, karena memang fokus utama kami kan sharing. Mereka responsnya suka, bahkan banyak banget yang ngajuin pertanyaan. Biasanya pertanyaannya sih bermula dari, ‘Kak gimana sih hidup di sana,’ terus kuliah di sana, pengalaman-pengalamannya,” ujar Ridzki.

“Mereka (siswa kelas online) sampai ada yang terinspirasi kuliah di jurusan bahasa Inggris karena mereka pengin nantinya bisa berbahasa Inggris lancar. Terus bisa ke luar negeri, lalu bisa jadi volunteer-nya Diaspora E-Class kayak kami-kami juga. Jadi, jiwa sosial mereka kebangun juga,” kata Ridzki.

Tak hanya sesi sharing, Diaspora E-Class juga kerap memberikan anjuran kepada volunteer untuk membuat mini projek yang akan diberikan kepada murid-murid kelas online. Di samping melatih keaktifan, sesi ini dibuat untuk menghindari rasa bosan selama kegiatan sesi sharing.

“Kalau cuma ngobrol-ngobrol aja kan bosen. Di program ini kami pakai namanya body sistem, kayak pemvolunteeran student. Jadi, minta mereka ngerjain mini projek sebulan. Mini projeknya dibebasin, misalnya kayak menulis artikel, buat video, atau ada yang berani invent sesuatu. Pokoknya durasinya sebulan, jangan panjang-panjang,” jelas Ridzki.

Kalau ada sesi mini projek seperti itu, lanjut dia, ada tujuan yang lebih jelas karena ada timeline yang juga sudah diberikan. Dengan sendirinya para murid kelas online ini harus paham memanajemen waktu berdasarkan mini projek yang hendak dikerjakan.

“Biasanya kami minta di akhir projek, mereka (siswa kelas online) mempresentasikan hasilnya ke kakak-kakak diaspora. Kalau misalnya nulis artikel, nanti bisa di-publish di sosial media kami, atau kalau video ya di-share di Youtube kami.”

Kagiatan lainnya adalah Mix N’ Mingle, yaitu para diaspora yang sedang berlibur dari kegiatan di luar negeri dan pulang ke Indonesia, akan menyempatkan diri bertemu langsung dengan murid-murid kelas online Jabodetabek.

“Banyak diaspora yang pulang musim panas, ya kami pakai kesempatan itu. Tiap tahun ganti-ganti lokasinya, karena yayasan partner kami kan ada beberapa. Sejauh ini masih Jabodetabek, meskipun ada juga partner yang di Aceh, tapi masih agak kesulitan kalau organize diasporanya ke Aceh,” ucap Ridzki.

“Kebetulan kami masih volunteer base, jadi kalau diaspora liburan ke sini ya diundang. Limit kalau ngajak ke Aceh, walaupun harapannya juga bisa ke sana. Padahal yang di Aceh itu sebenarnya partner pertama kami sejak awal berdiri pada 2013, tapi malah belum dikunjungi,” lanjut Ridzki.

Sementara itu, untuk volunteer pengajar sendiri, menurut Ridzki sejauh ini tidak kesulitan untuk mendapatkannya. Diaspora bisa berasal dari mana saja. Meski awal dibangunnya dari  diaspora Kanada dan Amerika, lambat laun koneksi volunteer bertambah. Ada yang dari Eropa, Asia, bahkan pernah ada juga yang dari Afrika.  

“Narik minat diaspora enggak susah, biasanya mereka gampang tertarik. Challange-nya adalah mempertahankan volunteer yang sudah ada. Karena biasanya mereka setelah beberapa kali volunteer males. Tapi sebenarnya sekolah partner kita juga baru sedikit, jadi adik-adiknya sendiri masih itu-itu aja. Kami coba ngembangin partner juga sih,” jelas Ridzki yang kini bekerja di Bali.

Saat ini, ada empat partner yayasan atau sekolah yang bekerja sama dengan Diaspora E-Class. Sementara, jumlah anak-anak yang mengikuti kelas online ini bervariasi, tergantung yayasan atau sekolahnya. Dan untuk jadwal kelas online juga diatur oleh pihak yayasan atau sekolah yang bersangkutan.

“Kayak misalnya yang di Aceh itu kan panti asuhan, biasanya digilir. Minggu ini si A sama si B yang ngajar online, minggu besok si C. Ada yang per minggu, ada yang dua minggu. Itu kami serahkan ke pihak yayasannya karena mereka yang lebih tahu,” ucap Ridzki.

“Kalau panti asuhan mungkin anak-anaknya ada jam sibuk kegiatan yayasan, karena enggak semuanya sekolah kan. Kalau Dompet Dhuafa yang di daerah Parung itu sekolahan, mau enggak mau jam pulang sekolah baru bisa ikut kelas online, jadi kayak ekstrakulikuler buat mereka.”

Menurut Ridzki, pembentukan organisasi Diaspora E-Class ini turut berpengaruh dalam kontribusi diaspora terhadap Indonesia, dari segi pendidikan. Bagaimanapun, anak-anak ini merupakan masa depan Indonesia, terlebih di era globalisasi.

“Wawasan mereka perlu diperluas untuk nantinya membantu membangun Indonesia itu sendiri. Dengan pengalaman yang pernah bekerja atau kuliah di luar negeri itu, lalu ilmunya diserap sehingga di sini efeknya bisa positif,” ujar Ridzki.

“Jujur, saya aja kan kuliah di luar negeri. Saya yang pertama ke luar, sama saya yang pulang lagi ke Indonesia, terasa banget bedanya. Cara melihat hal-hal yang menurut saya perlu, bahkan untuk membangun bangsa. Sebelum saya ke luar negeri, saya enggak kepikiran membangun network dengan orang-orang luar yang bisa berguna untuk membangun bangsa.”

Ridzki melanjutkan, pihaknya sendiri tidak sebatas mengajak anak-anak untuk pergi ke luar negeri. Berprestasi di luar negeri sah-sah saja, bahkan jika hendak berkarier di sana. Namun, ambil ilmu serta pengalamannya, kemudian pulang ke Indonesia siap untuk diterapkan dan ditularkan kepada teman-teman lain.

“Kalau misalkan kamu enggak pulang, tetap aja kamu harus terapin ilmunya ke Indonesia. Karena sudah banyak contohnya, kayak dari executive Diaspora E-Class sendiri domisilinya di luar negeri. Bersama dengan kami yang ada di sini (Indonesia) bisa saling membantu. Enggak harus secara fisik mereka ada di sini. Banyak cara untuk berkontribusi.” 

COMMENT
500

Topcareer.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE