real
		time web analytics
Sinetron Ribuan Episode, Konten Penyiaran Perlu Dibenahi?

TOP CAREER – Sudah pada tahu dong, sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Anak Jalanan atau Cinta Fitri? Sinetron-sinetron ini sempat mendominasi rating penonton hingga episodenya dibikin sampai ribuan. Namun, dengan konten sinetron seperti itu apakah membuat masyarakat Indonesia terdidik? Hal ini lantas dinilai ada yang perlu dibenahi.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis berpendapat bahwa ada yang salah dengan konten penyiaran di Indonesia. Lantaran rating yang menjadi acuan laku atau tidaknya sebuah konten program televisi, lantas yang diproduksi pun hanya itu-itu saja.

“Pak Anwar Fuadi pernah cerita ke saya kalau dia pemain sinetron terpanjang di dunia. ‘Saat ini saya sudah 1.360 episode,’ kata Pak Anwar. Sampai ada candaan, saat itu ke Mesir, tiba-tiba di piramida tempat dimakamkannya Firaun, bangkit dari kuburnya. Firaun nanya ke saya (Anwar Fuadi) tukang bubur masih tayang enggak? Dijawab masih, Firaun tidur lagi,” tutur Yuliandre.

Menurutnya, dari kelakar itu bisa dipahami bahwa ada persoalan di hilir dan hulu pada konten penyiaran Indonesia. Ketika rating-nya bagus, kata dia, maka harus diproduksi terus. Padahal dari segi kualitas, konten yang disuguhkan seputar pacaran, konsumtif, hedonis, lagi-lagi terlilit urusan rating.

Hingga ada selipan alternatif konten untuk Indonesia, namun berujung pada impor dari luar negeri. Kecenderungan orang Indonesia yang suka bentuk sinetron akhirnya punya alternatif konten asing, misal dari India, Turki, Korea. Namun, apakah Indonesia akan selalu menjadi follower?

“Harga satu sinetron di Indonesia itu diproduksi Rp300 juta, kalau impor dari asing cuma Rp120 juta. Dari segi kualitas, lebih baik asing. Jangan salahkan kalau Turki hadir di televisi, Korea juga hadir di sana, Thailand juga diambil. Semua dari asing, duitnya ke sana semua dong.”

Padahal, sambung Yuliandre, aturan dari KPI jelas bahwa konten asing yang masuk ke Indonesia adalah 40 persen, tidak boleh lebih. Namun, ada saja akal-akalan televisi sehingga konten berbau asing itu tetap beredar di televisi Indonesia.

“Televisi ini pintar, kemudian diambillah artis asing untuk ditaruh di sini, main di Indonesia, produksi di Indonesia. Jadilah produksi dalam negeri. Artinya itu salah siapa?”

Melihat realita yang seperti ini, lantas Yuliandre berpesan kepada anak muda agar berperan dalam menentukan sikap, bahkan memilih tontonan. Apalagi jika memasuki era televisi digital yang akan menambah daftar channel televisi yang akan siaran.

Jika banyak pilihan channel televisi, lalu bagaimana konten yang akan disuguhkan? Hal itu yang menjadi tantangan bagi pihak terkait termasuk anak muda. Ia menyampaikan, kalau hanya menjadi followers, maka yang terjadi ujung-ujungnya Indonesia kembali impor konten luar.

“Dalam posisi ini KPI menilai masih banyak lahan-lahan konten yang bisa dikembangkan. Saya berpikir kalau bisa bentuk dong yang namanya kontenpreneurship. Jadi, enterpreneur di bidang konten yang kira-kira bisa menyajikan sebuah konten baru untuk kita,” kata lelaki yang akrab disapa Andre ini.

Ia mengaku sedih melihat konten yang tersaji saat di Indonesia kini. Berlomba-lomba menciptakan suatu program yang tahu sebenarnya mana yang baik dan mana yang salah.

Namun, ironi yang terjadi adalah ikut dalam suatu nuansa yang kontennya dibikin beribu-ribu episode, seolah-olah tidak ada substansi lain yang bisa diolah.

“Tetapi ini PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Kita enggak bisa nyalahin industri karena industri juga beli dari production house. Production house inilah yang menajdi konten provider, harus menciptakan ide-ide yang brilian.”