real
		time web analytics
Perbekalan Penyiar Radio

TOP CAREER- Selain playlist musiknya, nilai jual dari satu radio ada dibarisan penyiar. Tak heran jika banyak radio seolah tergantung pada keampuhan dari penyiar-penyiar dalam berebut pendengar. Dari profesi ini pula muncul banyak entertainer kenamaan berkualitas. Alhasil, ada anggapan bahwa penyiar punya modal lebih jika ingin banting setir atau terjun ke profesi lainnya.

"Radio kaya sekolah. Alumni radio lebih unggul ketimbang bukan alumni radio. Lihat saja MC (master of ceremony) host seperti Indy Barends, Indra Bekti, Farhan, Ferdi Hasan, yang ngalamin radio beda sama yang nggak ngalamin. Karena mereka dilatih kreatif, dilatih ngomong, dilatih berpikir cepat, dilatih ngeles. Itu latihan tiap hari masa tidak ada hasilnya. Tidak pernah kehabisan omongan orang yang kerja di radio pintar ngomong," ujar Ronal Surapradja entertainer kenamaan yang juga siaran di radio Jak FM kepada TopCareer.id.

Jika kamu suka ngomong atau bawel, Kamu sudah punya satu modal untuk menjadi penyiar di radio. Tapi itu saja tidak cukup. Ronal mengingatkan untuk menjadi penyiar yang baik tidak bisa instan. Si penyiar harus terus membekali diri dengan banyak referensi, pengalaman, sama eksperimen. Karena jika sekali tidak kreatif maka akan kelibas dengan penyiar lainnya.

Sebelum kecemplung di dunia keartisan, Ronal terlebih dulu menjadi penyiar di Bandung sejak 1999. Pada awal siaran ia mengenang kalau bayarannya hanya Rp4.000 per jam. Seiring dengan keberhasilannya di dunia entertainment, pria yang kini menjadi produser musik ini mengaku siaran bisa menjadi sumber pendapatan yang bisa diperhitungkan.

"Kalau sekarang saya hitungannya bukan per jam lagi. Ada hitungan khusus. Ketika ke Jak FM, sudah menjadi seseorang kalau aku ada hitungan khusus. Jangan lihat apa yang saya dapatkan sekarang tapi apa yang proses saya lakukan. Gue penyiar yang dari berbagai zaman. Masih zaman kaset ngalamin, ngalamin cd. Saya sudah terbukti penyiar berbagai zaman dan teknologi. Karier saya panjang di radio. Sudah banyak pencapaian dari siaran," ujarnya.

Ronal yang kini siaran primetime pagi bersama Tike Priatnakusumah (Tike) membagi saran untuk menjadi penyiar yang baik harus bisa menciptakan identitas sendiri alias tidak bisa asal tiru. "Ada orang yang siaran di radio yang kelasnya A plus plus plus. Jadi kalau siaran harus ngomongin mobil Jaguar aku masuk bengkel, lo nggak punya man. Nggak jujur dan nggak kan terjiwai. Karena ngelakuin itu. Pendengar kami juga sama. Karena jujur energinya sampai. Tapi ya itu kembali ke pilihan. Ada penyiar yang hidupnya harus party terus kalau tidak akan dikucilkan ke pergaulan radio itu. Jadi harus jujur siaran. Makanya siaran saya sama Tike natural tidak mencoba melucu," kata Ronal.

Latar utama yang membuat Ronal berkarier lama di radio atas dasar kecintaannya akan musik. Kalau bahasa kerennya karena passion-nya di musik. "Kesedihan saya tidak tahu bentuk anak saya di pagi hari. Karena saya siaran. Itu pengorbanan terberat. Tapi kerja yang paling nikmat adalah hobi yang dibayar. Saya hobi ngomong, hobi berckamu dibayar. Saya tidak pernah berasa kerja. Kerja yang cuma ngomong ini sudah membawa saya kemana-mana. Secara materi juga wow," tutur Ronal.

Secara terpisah, duo penyiar Mustang Fajar Ibel dan Febicil juga menilai passion terhadap musik dan dunia penyiaran menjadi lkamusan kariernya. Keduanya tercatat sudah siaran bareng sejak November 2014 di program Zona Pegasus. Si Ibel memulai karier di radio sejak 2010, sementara Febicil sejak 2008. "Kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan berdasarkan passion," ujar keduanya yang ditemui disela siaran primetime sore.

Menurut Febicil tantangan menjadi penyiar adalah bagaimana untuk bisa terus menjaga mood. "Dukanya kalau tidak lagi mood. Nggak boleh kalah sama mood. Gimana caranya bisa ngalahin mood. Kalau siaran itu kan bermain dengan teater of mind. Kalau bete sedikit kan pasti kedengeran sama pendengar. Gimana kita bisa mengatasi mood itu. Kita punya mood booster yang sama yaitu kopi," ujarnya sambil tertawa.

Terkait saran untuk orang yang mau berkarier diprofesi ini ketiganya seolah sepaham bahwa orang tersebut harus terus mengasah kompetensi dirinya. "Syarat utama jadi penyiar. Cewe jangan cadel abjad. Terus juga tidak mesti ekstrovert, banyak open minded. Suara juga dipertimbangkan tapi bisa dilatih, dulu suara kami juga cempreng. Kaya vocal coach, kaya latihan nyanyi. Penyiar harus punya wawasan yang luas, aware sama keadaan dan isu sekitar. Apalagi kalau pengen jadi penyiar di Jakarta yang informasi kaya arus ombak. Melek informasi sama fokus. Jangan sok tahu," ujar Ibel dan Febicil dengan nada semangat kepada TopCareer.id.

Faktor menciptakan kesempatan juga menjadi hal yang harus dilakukan jika ingin menjadi penyiar. "Tidak ada sesuatu yang berat untuk siaran. Orang yang punya kemampuan itu banyak orang yang punya kemampuan dan dapat kesempatan itu yang tidak banyak. Kalau merasa sudah punya kemampuan untuk jadi penyiar ya tinggal cari kesempatan. Kalau tidak mampu cari kesempatan ya bikin kesempatan," ujar Ronal.

Febicil dan Ibel keduanya sepakat juga penciptaan kesempatan menjadi hal penting harus diperhatikan dalam hal ini. "Kami bisa jadi penyiar karena nasib dan hoki. Bisa siaran itu hoki. Dulu awalnya radio sebelumnya, gue magang dulu jadi redaksinya. Karena bawel, saya disuruh coba siaran. Setelah dua tahun pindah ke Mustang coba apply dan diterima. Padahal sebelum sudah apply tapi tidak dipanggil," kenang Febicil si pencinta kucing.

"Kalau gue dulu awalnya, radio lama cari penyiar yang tahu musik-musik indie untuk program Groundzero. Kebetulan gue indie banget. Gue dulu nggak tahu musik-musik dan artis mainstream kemudian dipanggil untuk ngisi program itu. Sudah itu siaran. Pada saat lagi diluar dipanggil kepala redaksinya Mustang, ditawarin buat siaran di Mustang. Ya maulah. Hoki lagi. Waktu itu masih penyiar reguler," kenang Ibel yang hobinya berolahraga.