real
		time web analytics
Model Standout di Industri Versi Agensi

TOP CAREER – Dalam industri modeling, agensi punya peran penting sebagai wadah penyalur antara talent dengan kebutuhan pasar. Agensi dituntut jeli karena penilaian dalam memilih model, tak melulu soal fisik. Menghasilkan model-model standout menjadi tujuannya.

Managing Director Jakarta International Management atau JIM Models, Aa Ahmad, membeberkan terkait industri model kepada TopCareer.id. Soal seleksi calon model, Aa Ahmad mengibaratkan bahwa agensi butuh kemampuan six sense dalam memilih calon modelnya. Wow, perlu jadi paranormal, dong? Six sense di sini, kata Aa, bukan penilaian dari paranormal lho. Tampan dan cantik itu relatif, selebihnya pemilihan model atau talent untuk agensi dilihat dari persona orang per orangnya.

Eye catch sebetulnya, lebih ke persona. Persona dari dirinya sendiri. Tapi kalau secara persona dia keliatan, ada sesuatu. Selain look, model juga harus smart, bahkan smart itu wajib,” kata Aa Ahmad.

Kenapa pintar jadi salah satu patokan dalam penilaian? Karena menurut Aa sendiri, seorang model harus pintar dalam artian, dia pandai menempatkan dirinya. Model perlu mengetahui dalam memposisiskan diri, khususnya dalam dunia fesyen. Apalagi model merupakan bentuk packaging brand, sehingga harus tahu bagaimana mempresentasikan pesan dari brand tersebut.

“Persona ya, dia bisa bicara dengan orang lain. Dia bisa menempatkan dirinya di mana pun. Jadi, itu yang lebih penting, lebih humble lah. Personanya di atas panggung tetap ada, karena harus mempresentasikan sebuah baju.  Karena message setiap brand kan beda-beda, setiap desainer beda-beda, foto juga,” ucap Aa Ahmad.

Nah, kalau sudah dilihat melalui “mata paranormal”  calon model akan dipanggil untuk melakukan obrolan lebih lanjut bersama agensi untuk bicara komitmen ke depan. Agensi akan mendalami bagaimana ketertarikan sang calon model akan dunia modeling. Selain itu, kesiapan secara mental jadi faktor penting, agar karier model bisa berjalan mulus.

“Istilahnya secantik apa pun kalau enggak ada passion-nya, ya ngapain. Setelah apply dipanggil. Sama satu lagi, yang kami jual di sini bukan barang mati. Moral yang kami jual. Selain itu, bekal calon model adalah mental. Selama dia mentalnya kuat dan siap, yakin bisa semua.”

Kemudian, kalau pada tahap ini, kedua belah pihak cocok, maka tahap berikutnya adalah test market. Test market ini bisa diibaratkan, menjadi anak magang di industri model. Mencoba kesiapan dari sang calon model yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Test market, bukan tes secara kumulatif. Kembali dengan kebutuhan market. Kondisi kami sekarang lagi bagaimana nih secara market. Coba (model) dilempar. Saya ada talent, dengan fisik seperti ini, kemampuan seperti ini, dengan kelebihan seperti ini. Biasanya tiga sampai enam bulan, market-nya seperti apa. Kalau memungkinkan ya jalan,” jelas pria yang lama bergelut di dunia agensi ini.

Tapi terkadang, lanjut dia, lamanya test market itu kembali kepada kemampuan pribadi masing-masing. Ada yang kurang dari enam bulan. Ada yang sampai dua tahun, namun belum juga mendapatlkan progres sesuai kesepakatan awal.

“Ada anak di kami sudah dua tahun baru dia maju. Agensi selalu melihat ada harapan lain dari personal. Bisa jadi host, bisa di belakang layar, bisa jadi apa pun, ruang lingkupnya besar sekali, minimal dia bisa menjadi seorang public relations,” ujarnya.

Lalu, jika agensi tak tentukan waktu test market, sampai kapan agensi menyimpan harapan bagi calon model/talent? Aa menjawab, sampai si pribadi calon model atau talent itu merasa bahwa dirinya tidak mampu lagi di dunia ini.

“Selama dia enggak bilang begitu, tampung terus. Misal, ada yang mau bekerja di kantor. Ya, karena passion dia di situ, ingin bekerja di situ ya ayo saja. Atau kalau jadi motivator, ya bisa. Ketentuannya, kembali ke pribadi masing-masing.”

Nah, kalau yang banyak diketahui, agensi akan salurkan minat bakat di industri model saja bukan? Ternyata enggak selalu begitu. Aa Ahmad menegaskan dalam agensi sebetulnya tidak hanya modeling, show, lalu foto. Ruang lingkup bisa lebih luas. Namun kembali lagi, setelah dicek track record-nya, maka akan ada komunikasi antara kedua belah pihak.

Sementara, untuk mencapai target sesuai kesepakatan awal, agensi sudah pasti memberikan arahan berupa training-training. Hal itu juga diberikan untuk menunjang karier sang model atau talent agar bisa diterima sesuai permintaan pasar.

“Satu itu ada pembawaan diri, kami enggak mengubah personal masing-masing. Justru kelebihannya di mana itu ditonjolin. Atau misal, pembawaan dirinya dari kecil selalu bongkok, karena badannya tinggi enggak pede. Kami ajarin yuk, harus begini. Cara jalan juga sama, itu faktor kebiasaan,” tutur dia.

Aa Ahmad menambahkan, ada training bentuk lain yang disediakan untuk calon model, yakni public speaking. Seorang model harus bisa membawa diri melalui cara bicara. Secara persona memang tidak mengubah, tapi cara dan kebiasaan dalam berbicara perlu diarahkan ke sisi yang lebih positif.

“Misal dia saat bicara matanya ke mana-mana, diajarin lebih fokus lagi. Kami enggak mengubah sama sekali personalnya, tapi lebih memperbaiki. Ada acting juga, karena kami tadi sekali lagi, message setiap brand beda-beda. Selebihnya ke percaya diri.”

 

Agensi Baca Kondisi Pasar

Itu kan tadi dari sisi agensi dalam menilai dan mengelola model-modelnya, nah yang ini bagaimana agensi membaca kondisi pasar dan mengambil peluang-peluangnya. Karena perlu diingat, fungsi penting lain dari agensi model adalah sebagai jasa penyedia untuk memenuhi kebutuhan brand. Sementara, kebutuhan brand itu berbeda-beda, sehingga tiap agensi model memiliki target pasar yang berbeda pula. 

“Kebutuhan brand, relatif. Misal mungkin dua atau tiga tahun yang lalu, eranya bule lagi merajalela di Indonesia. Sekarang malah kebalikan, di luar pakai model Asia semua. Jadi, kami menyiapkan beberapa segmen. Kebutuhan ini di sini, spesialisasinya ini. Kalau bisa semua market dipenuhi, berarti demand juga banyak,” papar Aa Ahmad.

Karena pasar yang relatif dan dinamis itu, banyak pula agensi yang muncul sesuai dengan spesialisasi dan target pasarnya masing-masing. Namun, menurut Aa Ahmad, saingan dalam industri agensi model masih berkompetisi secara positif, lebih bermain ke dalam segmentasi pasar.

“Dibilang perang-perangan enggak. Karena tadi, lebih segmented ya. Ada si agensi mengkhususkan orang-orang yang misalkan edgy. Ada yang emang dia core-nya di bule, ada yang Indo, ada yang Indonesia banget. Mereka sekarang kompetitif. Untuk manajemen, kami semuanya ada. Lalu yang lain segmented? Ya enggak juga,” jelas dia.

Ia melanjutkan, kompetitif di sini tentu tidak dalam artian yang ekstrem sehingga masih dalam taraf normal. Bahkan, Aa mengaku bahwa sesama agensi kerap kali melakukan cross selling demi memenuhi kebutuhan pasar atau brand tertentu.

“Misalkan ada klien butuh model yang begini-begini. Duh, kebetulan schedule manajemen kami sedang begini, coba aja kontak teman saya di agensi lain. Kalau mau kompetisi negatif ya untuk apa, ujung-ujungnya bumerang untuk kami.”

Lalu, selain dari pasar segmented yang diperoleh dari brand-brand, agensi juga memiliki peluang dalam mendukung pemerintah. Karena, agensi model saat ini sering menerima permintaan dari pemerintah melalui event-event kepariwisataan dan entertainment.

Sikap pemerintah yang kini tengah menggalakkan produk-produk lokal, ternyata memberikan dampak positif juga bagi agensi model.  “Karena sekarang dengan adanya UKM, menaikkan lokal brand. Itu support Bekraf juga, support dunia kreatif, jadi ya Alhamdulillah ikut membantu. dengan adanya kebutuhan-kebutuhan market itu tadi, impact positifnya lumayan,” ujarnya.

Sementara, bicara soal keuntungan untuk agensi sendiri, kata Aa, bisa dibilang lebih musiman. Nah, musiman bagaimana nih? Aa menjelaskan, musiman di sini keuntungan bergantung pada event-event yang terselenggara, dan itu berdasarkan kondisi pasarnya, juga perekonomian.

“Misalkan di Januari, fashion show segala macam, masih liburan, masih dalam review. Biasanya brand-brand itu masih mengatur srategi untuk tahun berjalan berikutnya. Strategi market apa yang harus dijalanin. Atau sekarang ini bulan puasa lebih cepat, mau enggak mau, ada terus sebelum puasa. Jadi, keuntungannya per musim,” jelasnya.

“Industri model merupakan industri yang sangat menjanjikan, kenapa? Kurang lebih ini kan dunia lifestyle, pergerakannya sangat dinamis banget. Dan ke depan enggak akan mati, semoga. Selama semua brand ada, semua produk consumer good ada, itu pasti akan jalan terus,”  kata Aa. 

COMMENT
500

Topcareer.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE