real
		time web analytics
Kualifikasi Tenaga IT yang Dibutuhkan Industri Versi Head Hunter

TOP CAREER - Kebutuhan industri akan tenaga IT memang berbeda-beda di tiap perusahaan. Namun, tentunya ada kualifikasi umum yang minimal dimiliki kandidat agar bisa dilirik perusahaan, terlepas dari kemampuan technical. Berikut ini Manager Technology and Digital Michael Page Indonesia, Imeiniar Chandra membocorkan kualifikasi tenaga IT yang biasanya dibutuhkan industri versi head hunter.

Biasanya, perusahaan merekrut tenaga technical berasal dari lulusan IT, computer science, matematika, statistika, atau data science. Sementara, untuk kemampuan nontechnical akan lebih menilai personalitas kandidat, seperti kemampuan kerja sama tim, mau belajar banyak, juga kontribusi yang pernah dilakukan pada pekerjaan sebelumnya.

"Jadi kalau bisa dicampur orang technical dengan personality yang cocok, will be really good. Tapi biasanya yang jadi challange, orang technical itu communication skill-nya kurang. Jadi balik lagi, perusahaannya mau enggak ngerekrut orang-orang yang mungkin aja komunikasinya kurang, tetapi mau belajar, mau dilatih,” ucap Imeiniar kepada TopCareer.id.

Biasanya, kata dia, penyaringan terkait technical skill datang dari perusahaan langsung karena tiap perusahaan berbeda-beda IT skill set-nya. Sementara, Michael Page sendiri akan membantu mengarahkan test online sesuai dengan platform yang diberikan perusahaan, serta test yang sifatnya nontechnical.

Lalu, jika ingin memilih antara tenaga IT luar negeri dan dalam negeri dari segi technical skill, Imeiniar menjawab bahwa tenaga IT di tiap negara itu punya plus minusnya masing-masing. Untuk kebutuhan pasar Indonesia, Imeiniar lebih merekomendasikan tenaga IT Indonesia, bukan orang luar.

“Biasanya kalau lulusan luar negeri Inggrisnya bagus. Jadi, memang untuk technical ini enggak mesti lulusan luar negeri. Karena sebenarnya universitas di sini sudah bagus-bagus kok, bahkan beberapa lebih bagus dari yang di luar negeri,” ucap dia.

Kalaupun perusahaan Indonesia mengharuskan merekrut tenaga asing, hal itu karena kebutuhan akan tenaga IT yang sangat jarang di Indonesia. Bahkan tidak ada sebelumnya. Imeiniar mencontohkan, seperti data modelling yang memang bidang itu masih sangat baru di Indonesia.

“Pernah ada, orang luar punya technical skill yang khusus dan di Indonesia sendiri belum ada yang melakukannya. Lalu perusahaan ini ingin menjadi yang pertama, jadi benar-benar technical skill di Indonesia belum ada yang sukses melakukan itu,” imbuh dia.

Biasanya, kata Imeiniar, tenaga IT Indonesia lebih berorientasi pada kontribusi yang akan diberikan pada perusahaan, bukan pada uang. Imeiniar menilai, tenaga IT Indonesia mementingkan produk apa yang bisa diciptakan, serta lingkungan bekerja.

“Kalau orang sales ya mereka pasti nyarinya uang. Kalau orang IT mereka biasanya lihat cocok enggak bosnya, bisa belajar lebih banyak apa enggak. Kontribusi apa yang bisa diberikan untuk perusahaan, produk apa yang bisa diciptakan untuk membangun masyarakat. Mereka lebih ke sana mindset-nya.”

Tiga tahun terakhir, lanjut Imeiniar, tenaga IT gajinya sudah mulai dinaikkan karena sudah banyak yang investasi, sedangkan talent-nya tidak banyak. “Jadi balik lagi ke supply demand-nya seperti apa. Supply tenaga IT yang berkualitas itu masih dikit.”