real
		time web analytics
Kidzania dalam Cangkok Legit Bisnis Edutainment

TOP CAREER - Dengan resep yang dipegangnya, Kidzania begitu PeDe menghadapi persaingan industri hiburan di Tanah Air yang makin menggila.

Goerge Aly Razi, Chief Executive Officer Kidzania, menilai saat ini merupakan masa dari kebangkitan industri hiburan di Tanah Air. Salah satu dasarnya tercermin dari banyak konsep theme park yang tumbuh di Indonesia.

Pria yang akrab disapa Aji ini menilai pihaknya cepat menangkap kebutuhan masyarakat Indonesia akan inovasi pada dunia hiburan. Aji menjelaskan keunggulan Kidzania jika dibandingkan theme park yang lain terletak pada konten edukasi yang sangat kental dengan dukungan konsep bermain peran yang benar-benar nyata.

“Kidzania merasa sangat yakin bahwa konsep usaha seperti ini mempunyai umur yang masih sangat panjang dan kami yakin Kidzania juga mempunyai tempat tersendiri dari sisi inovasinya bagi setiap pengunjungnya,” ujar Aji kepada TopCareer.

Inovasi yang diusung Kidzania nyatanya bukan tanpa halangan. Pada awal keberadaan di Indonesia, Aji mengungkapkan pihaknya harus bekerja keras selama satu setengah tahun untuk mengenalkan konsep edutainment-nya ke pasar.

Kidzania merupakan theme park berlisensi dari Meksiko. Adalah PT Aryan Indonesia yang memboyong lisensinya ke Indonesia pada November 2007. Indonesia merupakan negara ketiga yang mengadopsi theme park ini setelah Jepang.

Dari sisi bisnis, selain mendapatkan pemasukan dari pengunjung, Kidzania rupanya juga mendapat pundi-pundi pemasukan dari kerjasama dengan pihak luar yang menjadi establisment-nya. 

Lebih lanjut, Aji menjelaskan keunggulan dalam kerjasama bisnis itu, si sponsor bisa mengenalkan brand-nya lebih menyeluruh karena kegiatan produksi sponsor terkait dijelaskan dalam sebuah kegiatan di establishment.

Brand-brand tersebut tidak hanya tercantum sebagai nama wahananya saja, melainkan brand tersebut benar-benar ada dan anak-anak pun akan diajak untuk mengalami pengalaman berkaitan dengan brand tersebut.”

Tak sekedar mengandalkan strategi inovasi produk, Kidzania juga terus berupaya menggenjot faktor human capital-nya untuk mendongkrak kinerja bisnisnya. Yose Rivand Damuri, Director Human Resources Kidzania, mengatakan dalam pengelolaan human capital, pihaknya sengaja tidak pernah menggunakan sistem outsourcing. Alasannya, dengan peniadaan sistem outsourcing diharapkan sense of belonging dari karyawannya akan jauh lebih tinggi. Kidzania Jakarta saat ini memiliki sekitar 630 karyawan.

“Semua karyawan Kidzania adalah karyawan organik dan dari situlah karyawan memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap perusahaan. Kami menganggap mereka bukan sebagai mesin, melainkan sebagai human.”

Menurut Yose, selain forum-forum resmi yang biasa diadakan di Kidzania, ada satu forum yang selalu dijalankan sebagai sarana komunikasi antara pimpinan dan anak buahnya untuk berbicara mengenai berbagai hal, yaitu forum one on one meeting.

“Dari forum itulah kita mendapat emotional bounding yang kuat antara karyawan dengan perusahaannya. Salah satu buktinya turn over di Kidzania sangat rendah sekali, yaitu hanya 0,8 persen setiap bulannya,” tutur Yose.

Yose mengakui bahwa untuk mendukung industri theme park yang memiliki konsep unik di Indonesia, Kidzania membutuhkan karyawan-karyawan yang kreatif, sekaligus juga produktif. Namun untuk mendapatkan SDM dengan kompetensi yang diinginkan bukan perkara gampang. Untuk mensiasati tantangan itu, pihaknya memberlakukan pola rekruitmen dan sistem pelatihan sesuai dengan arahan dari Kidzania Meksiko.

“Kami selalu merekrut orang-orang kreatif dari berbagai aspek dan orang-orang inilah jantung dari Kidzania. Dengan adanya aturan yang jelas bagi karyawan, maka membuat mereka dapat diarahkan dalam bekerja. Aturan dan SOP yang berlaku di Kidzania membuat setiap karyawannya produktif dalam bekerja, sehingga kreativitas yang dimiliki oleh karyawan dapat dipertanggungjawabkan untuk memajukan perusahaan,” ujar pria yang bergabung di Kidzania sejak awal 2012 ini.

Kedepan, Aji dan Yose berharap pemerintah bisa lebih memaksimalkan dukungannya terhadap pertumbuhan industri hiburan di Indonesia. Salah satu dukungan yang diharapkan adalah dalam hal perijinan maupun pengadaan sarana dan prasarana terkait. Selain itu, keduanya juga berharap perlindungan pemerintah terhadap plagiat dalam industri terkait.

“Untuk bisa menjadi nomor satu dalam bisnis ini, maka orang Indonesia harus kritis terhadap hak kekayaan intelektual. Sudah saatnya bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep theme park yang stabil pada setiap konsepnya, sehingga tidak ada lagi pembajakan intelektual,” tutup Aji.