real
		time web analytics
Karier di Dunia Model Tak Ada Habisnya

TOP CAREER - Ada anggapan bahwa karier di dunia model tak bisa panjang. Ya tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Salah satu yang membuktikan hal tersebut adalah Ita Adnan.

Mantan model ternama ini nyatanya masih terus berburu tantangan demi memajukan dunia mode Tanah Air. Pengalaman puluhan tahun di dunia model nyatanya tak membuat Ita Adnan berpuas diri.

Siapa tak kenal dengan Ita Adnan. Di saat model masih menjadi profesi langka di Indonesia, Ita sudah masuk dalam daftar tersebut. Ita menjadi salah satu model yang sering seliweran di runway era 1970-an dan 1980-an. Tapi siapa sangka juga demi meningkatkan kemampuan sebagai model saat itu, Ita harus belajar keras secara otodidak dari para seniornya. Sebab modeling school belum ada saat itu.

“Zaman dulu model-model senior banyak kasih masukan ke saya karena tidak ada sekolahnya. Model waktu itu hanya 25 orang. Karena itu, dalam sehari bisa 3 show. Januari sampai Desember bisa sampai 180 show. Sekarang saya sudah mantan tidak bisa dibilang senior,” kenang Ita kepada TopCareer.id.

Selepas dari profesi sebagai model, Ita terjun ke dunia media yang masih berhubungan dengan dunia fesyen. Ia masuk media mulai 1993 di majalah Aneka sebagai redaktur fesyen. Beberapa media yang bersinggungan dengan fesyen pun sempat merasakan tangan dingin Ita.

“Yang saya cari dari model senang saja. Saya tidak ada pikiran apa-apa. Saya senang saja ketemu teman, sosialisasi. Pergaulan makin luas dan dampaknya saya rasa saat sekarang saya bekerja. Orang di lingkungan fesyen tahu saya. Kebetulan saya kerja di media juga jadi tidak sulit untuk minta kerjasama sama desainer walaupun yang baru-baru itu,” lanjut Ita. 

Kebiasaan disiplin yang diterapkan Ita sejak dulu diakui malah menjadi berkah bagi kehidupan profesionalnya. “Dampaknya sampai sekarang saya rasakan. Contohnya kebetulan saya sekarang kerja sebagai fashion stylist jadi enak biasa ngatur waktu,” ujarnya.

Baginya disiplin menjadi hal yang harus dimiliki setiap profesi terutama model. Saking pentingnya, Ita menegaskan bahwa disiplin menjadi salah satu faktor utama penentu kesuksesan seorang model.

Pengalaman menjadikan Ita punya tempat tersendiri di dunia model Indonesia. Ita pun banyak bekerja sama dengan desainer-desainer ternama Indonesia. Pengalaman panjang itu juga yang membuat Ita semakin matang di dunia model Indonesia meskipun saat ini lebih banyak terlibat dibalik layar beberapa pameran busana ternama di Indonesia. Ita pun juga mendirikan sekolah modeling yang dinamai Icon Plus. 

Tak hanya aktif di lingkup Tanah Air, Ita juga banyak aktif mengikuti pameran di tingkat internasional. Ita membawa misi ingin mengangkat potensi industri fesyen Indonesia ke kancah internasional.

Menurutnya industri fesyen Tanah Air punya potensi besar yang bisa bersaing di peta fesyen dunia karena memiliki keunikan tersendiri. Terlihat dari banyaknya keragaman yang dimiliki industri fesyen daerah yang mengedepankan keunikan masing-masing budaya.

“Yang paling baru aku ke pengrajin-pengrajin di Padang dan Bukittnggi dengan ibu-ibu supaya mereka belanja kain-kain Indonesia untuk membantu pengrajin,” ujarnya.  

“Pesan buat model sekarang jangan cepat puas. Karena masa model itu tidak lama paling hanya 10 tahun. Saya sendiri mulai model umur 15 tahun, kelar umur 30. Harus terus belajar jangan pernah puas diri. Yang jelek-jelek jangan dilakukan karena model berhubungan dengan klien. Model itu kan jual jasa.” 

Terkait perkembangan dunia model Tanah Air, Ita berpendapat seorang model sebaiknya memiliki ciri khas atau keunikan tersendiri. “Model Indonesia kini juga menghadapi persaingan dengan model luar. Karena itu kita harus punya keunikan sendiri selain attitude-nya harus dijaga.”

Fashion stylist tabloid Nova ini mengaku tidak terlalu suka dengan model asing. Baginya, model luar negeri sudah memiliki tampilan dasar yang cantik. “Sebagai seorang fashion stylist bisa dibilang sukses kalau buat model yang biasa jadi bagus. Itu jadi tantangan sendiri. Saya lebih pilih model Indonesia jalannya pun lebih luwes di catwalk. Bawain baju juga lebih kena. Model Indonesia itu ada luwesnya.”

Ke depan Ita berharap industri fesyen di Indonesia bisa mendapat dukungan penuh pemerintah. Ia pun berharap model di Indonesia kian banyak dan bisa bersaing dipentas runway internasional. Ia pun memperkirakan kebutuhan model di Indonesia ke depan akan kian tinggi.

“Negara paling banyak buat show itu di indonesia. Kalau di luar negeri ada musim-musimnya. Misalnya musim winter, masa jedanya itu lama untuk model itu istirahat. Kalau disini setiap saat ada show mulai dari mall-mall dan lainnya. Butik-butik juga banyak. Jadi model masih banyak dibutuhkan,” tutup Ita.