real
		time web analytics
Debut Jadi Produser, Darius: Saya Menua di Night Bus

TOP CAREER – Setelah sering asyik bermain di layar kaca sebagai aktor, Darius Sinathrya kini merambah sebagai produser untuk film Night Bus yang belum lama ini meraih penghargaan film terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Laki-laki berusia 32 tahun ini mengakui bagaimana pusingnya menjadi seorang produser film.

Ia berkelakar kalau selama debutnya sebagai produser di Night Bus membuatnya harus rela “menua” demi memperoleh kualitas film yang baik. Yang biasanya hanya fokus dalam pendalaman peran, kini Darius seolah dipaksa harus ikut diribetkan oleh banyak hal.

“Pusingnya banget-bangetan. Saya menua di Night Bus. Tapi itulah proses, saya belajar banget. Bukan cuma belajar tentang produksi, tapi kehidupan. Bagaimana berhadapan dengan orang, dengan situasi di luar dugaan. Bagaimana problem solving, bagaimana mengapresiasi sesuatu,” ujar Darius kepada TopCareer.id sambil tersenyum.

Meski sebelumnya hanya menikmati job-nya di depan layar sebagai seorang aktor, ia mengaku perannya sebagai produser cukup memberikannya pengalaman berharga. Meski harus jatuh bangun, kata Darius, ia masih bisa menikmati selama hal itu bisa membuahkan karya yang berkualitas.

Bahkan, debutnya sebagai produser di Night Bus Pictures masih memiliki jalan panjang untuk menelurkan karya-karya yang dinanti. Apalagi, ia merasa bahwa ia memiliki tujuan yang sama bersama timnya untuk menghasilkan karya terbaik.

“Walaupun berdarah-darah, menua, tapi aku nikmatin. Karena kami punya aim yang sangat kuat dan sama, bikin karya yang bagus, berkualitas. Sempat si, ada momen capek, tapi kerjaan jalan terus, produksi jalan terus, harus di-handle sebaik mungkin itu tanggung jawab soalnya kan,” ucap dia.

Rasa lelah yang seolah tiada akhir itu pun lantas berbuah penghargaan yang membuat Night Bus didapuk menjadi film terbaik di ajang bergengsi FFI 2017. Tak lupa lima penghargaan lainnya juga diambil, seperti kategori pemeran utama terbaik, penulis skenario adaptasi terbaik, penyunting gambar terbaik, penata rias terbaik, dan penata busana terbaik.

Penghargaan itu kemudian menjadi pecutan semangat dan energi agar bisa berdiri kembali dan membuat karya-karya bermakna lainnya. Darius bahkan tak menyangka bahwa Night Bus bisa meraih penghargaan puncak di FFI.

“Kaget pasti, kalau best picture enggak punya ekspektasi, masuk nominasi di situ aja kami udah bangga banget. Kami menyadari sebagai sebuah PH (Production House) yang baru dan saya sebagai produser debutan pasti masih ada kelemahan yang peru diperbaiki dan disempurnakan.”

Jadi Produser Karena Kecebur

Darius mengistilahkan debutnya sebagai produser di Night Bus ini merupakan “kecebur” lantaran mulanya ia hanya ingin membantu Teuku Rifnu Wikana sebagai sahabat. Asyiknya dunia peran di depan layar kaca tak pernah membuatnya berpikir menjadi seorang produser.

Ia lantas bertutur bahwa Rifnu sudah bercerita soal ide Night Bus ini sejak 2009, dan pada 2014 teman-temannya meminta Darius untuk ikut terjun membantu ide cerita tersebut menjadi sebuah film.

“Akhirnya aku sebagai sahabat bilang, apa yang bisa dibantu. Ayo coba jalan sama-sama, ternyata dalam prosesnya ada satu titik di mana mengharuskan aku ikut sebagai produser. Ya, mau enggak mau. Aku terbiasa, begitu komit ya ayo harus sampai selesai,” ucap laki-laki kelahiran Swiss itu.

Menurutnya, sebagai aktor, ia sudah tentu mencintai seni peran, mencintai dunia film itu sendiri, dan menginginkan ada film yang bisa bersuara, yakni film yang berkualitas. Kalau memang kecintaannya terhadap dunia film ini bisa menghasilkan film berkualitas, ya kenapa tidak meski harus berkecimpung di balik layar.

“Film yang berkualitas banyak sebenarnya. Kami juga pengin lah punya (film berkualitas), kami pengin jadi bagian itu. Dan ternyata aku nikmatin banget prosesnya, proses kreatif bareng Night Bus Pictures,” ucap dia.

Kini, setelah terjun sebagai produser di Night Bus Pictres, ada beberapa karya yang tengah menunggu untuk dirampungkan dan siap diterbitkan. Hingga ahirnya, debut produser Darius ini memanjang.

“Ya on the way kita berkarya enggak cuma di Night Bus aja, ada film kedua, ada film pendek yang Desember tayang. Jadi banyak, jadi profesi ternyata.”

Alasannya Tak Ikut Main di Night Bus

Teuku Rifnu Wikana atau yang akrab disapa Rifnu, selain sebagai aktor juga ikut memproduseri Night Bus bersama Darius. Namun, Darius sendiri tak ikut ambil bagian dalam alur cerita sebagai seorang aktor. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa tak ada karakter yang pas untuknya.

“Sebagai aktor, udah 2005 main film, tapi kalau di Night Bus ditanya enggak ikut main, pertama mungkin enggak ada karakter yang benar-benar pas yang bisa aku perankan.”

Ia mengtakan, selama proses casting film itu memang terbilang ketat karena Night Bus tidak ingin ada salah pemilihan peran atau salah pilih pemain. Nah, dalam peran-peran yang sudah terbentuk itu, tak satu pun yang pas untuk membuat Darius bermain dalam Night Bus.

Hingga pemilihan peran yang dilakukan pun menciptakan ensemble yang benar-benar hidup dan sangat kuat. Pemain yang dipilih merupakan kombinasi aktor muda dan aktor berpengalaman sehingga bisa menjadi kekuatan sendiri selain jalan ceritanya.

Ensemble yang kami bagun kuat dan hidup saling mendukung. Directing dari Emil (Sutradara Night Bus) yang menurut aku jadi drive yang sangat kuat dalam filmnya.”