real
		time web analytics
Cara Head Hunter Rekrut Tenaga IT

TOP CAREER - Menurut Imeiniar Chandra selaku Manager Technology and Digital dari Michael Page Indonesia, perekrutan tenaga IT secara sembarangan bakal berdampak buruk bagi perusahaan itu sendiri, apalagi golongan startup yang memang masih tahap merintis. Sehingga proses perekrutan harus benar-benar diperhatikan.

Tak sedikit perusahaan yang masih menganggap sepele tahapan perekrutan karyawan. Padahal itu menjadi hal yang sangat menentukan masa depan. Perusahaan tak jarang lebih berfokus pada pencapaian secara financial dan penjualan.

Mengambil dalam pengalamannya, ketika memberikan masukan terhadap perusahaan khususnya pada perekrutan tenaga IT, Imeiniar mengaku masih menemui klien perusahaan yang baru ingin mengetahui bidang IT. Kemungkinan perusahaan tersebut hendak menyesuaikan arus yang kini semua kegiatannya serba teknologi.

Guna meminimalisasi kesalahan perekrutan, manager perekrutan akan meminta persyaratan yang tinggi dari calon karyawannya. Mereka rata-rata akan mewawancarai 6 tenaga profesional sebelum menawarkan pekerjaan.

Sebab, bagi beberapa perusahaan start up yang berbasis e-commerce biasanya membutuhkan technical skill yang sangat spesifik. Apalagi kebutuhan tenaga IT saat ini dipandang sebagai bagian penting yang bisa membawa engineer revenue bagi perusahaan. Sehingga tenaga IT kini diganjar dengan competitive salary yang cukup besar. Pihak perusahaan berani menawarkan kenaikan gaji sekitar 20 persen sampai 30 persen dari gaji sebelumnya.

“Indonesia ini talent-nya very limited kan, sedangkan orang IT ini biasanya kalau emang mereka bagus, pas mereka dapat offer letter bisa lebih dari 3 atau 4, secara bersamaan. Jadi balik lagi, perusahaan bisa cepat apa enggak untuk mengambil orang-orang yang bagus di market,” ucap dia kepada TopCareer.id.

Menurut penelitian Michael Page, rata-rata perusahaan membutuhkan waktu selama 4 bulan untuk mendapatkan karyawan berbakat. Yang nantinya calon karyawan ini akan menjalani 3 tahapan wawancara sebelum berhasil mendapatkan pekerjaan.

Bahkan menurut Imeiniar, saat ini banyak perusahaan yang mulai melakukan interview dengan menerapkan culture and fit, di mana tidak hanya interview dengan bos saja, tetapi juga dengan kolega bahkan dengan tim lainnya. “Ini dilakukan untuk melihat apakah calon pekerja dapat bekerja sama atau tidak,” ujar Imeiniar.