real
		time web analytics
Portal Berita Ternama Kewalahan Gaet Pembaca Milenial

TOP CAREER – Generasi milenial yang akrab dengan gadget tentu menjadi pasar yang seksi dimata media. Sayangnya, pasar ini ternyata tidak gampang dimenangkan. Bahkan beberapa portal berita ternama malah kewalahan mencari formula untuk menggaet pembaca kalangan milenial.

Mega Agniya sebagai salah satu social media content Detik.com mengatakan bahwa timnya kini memperpanjang segmen pembaca, yang termasuk di dalamnya generasi milenial berusia 18-25 tahun. Namun, dengan perpanjangan segmentasi pembaca itu, tim medsos Detik.com masih mencari ide-ide baru agar bisa berhasil memperkenalkan brand Detik.com pada pembaca usia 18-an.

“Sebenarnya memang Detik.com sudah dikenal. Tapi anak milenial enggak tahu. Ini pernah disurvei sama kami sebelumnya. Coba tanya anak 18 tahun, anak milenial enggak tahu Detik.com. Sekalinya tahu dari mana? Dari Line. Anak milenial lebih aktifnya di situ. Anak milenial lebih tahu Hipwee, lebih tahu IDN Times, Dagelan, ya model-model gitu,” papar Mega kepada TopCareer.id.

Mega menilai anak-anak zaman sekarang lebih suka membaca yang simple dari Line yang juga memiliki jaringan user cukup besar sebagai aplikasi pengirim pesan instan. Sementara, mengharapkan generasi milenial untuk direction atau search langsung Detik.com masih sangat sulit.

“Makanya traffic kami kalau diurutin, Facebook masih urutan satu, kedua itu Line, baru Twitter. Karena di Line itu ada Line Today. Line kami ada official akun sendiri, jadi sangat amat membantu kami untuk lebih dekat dengan anak-anak milenial.”

Bahkan, kata Mega, portal berita ternama lainnya seperti Liputan6.com dan Kompas.com juga memiliki problem yang sama, yakni mencoba mengejar pembaca kaum milenial. Ketiga portal berita ini (Detik.com, Liputan6.com, Kompas.com), memang kerap beradu soal penyajian konten berita, dan kini juga sama-sama dibuat kewalahan untuk menarik minat pembaca milenial.

“Cuma ketika mau nge-head to head anak-anak milenial, sudah lah 3 portal berita ini hilang. Saingannya bukan teman-teman sendiri, tapi gimana caranya untuk menarik milenial ini dengan segambreng online sekarang. Malah sekarang anak-anak medsos kami cari referensi atau ngebandingin konten bukan sama Kompas, tapi ke web-web yang milenial,” jelas Mega.

“Bagaimana cara mereka (web milenial) bikin caption, gimana cara mereka menyajikan infrografis, bagaimana memilih berita yang mau dinaikin ke medsos. Default-nya Kompas dan Liputan6 sudah tahu nih, nah sekarang gimana caranya yang di IDN keambil juga.”

Demi memecahkan masalah pembaca milenial ini, tim sosial media Detik.com pun tak berhenti mencari solusi. Seperti membuat fanpage yang kontennya “seanak muda” mungkin karena kini saingannya adalah portal yang menyajikan konten lebih ringan.

“Sebenarnya target segmen milenial udah dari tahun lalu, cuma masih membangun engangement. Lebih kayak memberikan awarness orang tentang Detik.com, bagaimana caranya orang yang sudah aware balik terus ke kami.  Ya kalau misalnya 25 ke atas hanya maintance dengan artikel-artikel kami, kayak punya fanbase-nya sendiri. Nah sekarang, gimana caranya anak-anak muda, masuk ke fanpage kami, itu cukup susah,” papar Mega. 

COMMENT
500

Topcareer.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE