real
		time web analytics
Duta Kemenpora Gencar Suarakan Pelajaran Ini Masuk Kurikulum

TOP CAREER – Generasi Milenial hingga generasi Z kerap mendapat cap sebagai “generasi tunduk”. Kenapa? Karena generasi ini yang lekat dengan internet, dianggap sulit memisahkan diri dengan penggunaan smartphone. Hingga muncul ide bahwa perlu ada mata pelajaran tentang sosial media di sekolah.

Hal itu yang tengah disuarakan oleh Duta Pelajar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gloria Natapradja Hamel. Melihat realita generasi saat ini yang tak bisa lepas dari smartphone, membuat Gloria terdorong untuk mengajukan mata pelajaran komunikasi dan sosial media yang dimasukkan dalam kurikulum agar generasi ke depan bijak menghadapi kemajuan zaman.

Menurut dia, menyiasati kemajuan teknologi, haruslah diimbangi dengan sikap yang bijak dalam menggunakannya. Karena jika teknologi tidak dipergunakan secara bijak, akan timbul dampak negatif yang tak hanya merugikan diri sendiri, tetapi orang lain.

Untuk itu, melalui kurikulum di sekolah, para murid dipaksa untuk belajar sadar bagaimana menyikapi teknologi secara bijak.

“Karena sekarang kita kan komunikasi tiap hari. We all have social medias, we all have connected to the internet. Aku kurang suka juga dengan kurang bijaknya anak-anak memakai gawai saat jam yang enggak seharusnya dimainkan. So, let’s start dengan hal kecil di pemerintahan, untuk mengembangkan kurikulum,” kata Gloria kepada TopCareer.id.

Ia mencontohkan perilaku remaja yang menurutnya tak bertanggung jawab di era yang serba sosial media ini. Seperti remaja-remaja yang kerap dicap apatis lantaran tak peduli dengan lingkungan sekitar, bahkan terhadap keluarga jika sudah asyik dengan smartphone mereka.

Sehingga sikap bijak berkomunikasi sosial media perlu masuk ke sekolah dalam bentuk kurikulum. Gloria menilai, dengan manuver itu, diharapkan Indonesia sudah bisa mengantisipasi kemajuan teknologi ke depan agar tidak jadi pemuda yang konsumtif.

“Mungkin buat masyarakat di daerah-daerah masih aman, tapi buat yang di Jakarta it’s going so worst. Banyak kasus sosial because of social media bullying. Kalau kurikulum itu hanya di Jakarta pada akhirnya akan jadi perda (peraturan daerah),” ucap Gloria.  

“Tapi kalaupun dilanjutin (di luar Jakarta) akan bagus karena pada akhirnya daerah akan maju. And i think it’s gonna be so nice kalau mereka bisa mengantisipasi kemajuan itu,” tambah perempuan yang masih bersekolah di SMA Islam Dian Didaktika ini. 

Gloria melanjutkan, mata pelajaran itu, menurut dia merupakan hal penting yang terbilang relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Daripada belajar yang sekiranya tidak urgent untuk kebutuhan masa depan, kata Gloria, lebih baik meluangkan waktu dua jam untuk sesuatu yang nantinya akan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga negara. 

Namun, bentuk pelajarannya akan seperti apa ia belum bisa memastikan. Ia mengatakan bahwa hal tersebut merupakan usul yang bisa segera ditindaklanjuti oleh pemerintah. Dirinya mengaku sempat mengemukakan usul tersebut ke Istana ketika menghadiri undangan.

“Cuma sounding ke konsulat presiden aja. Respons mereka baik, karena ini relevan, sebenarnya ini masalah negara juga. Kami hanya memberikan usul, tapi kami juga yakin banyak expert-expert yang lebih memadai dalam membuat perencanaan itu,” ujar Gloria.

Ia kembali mengingatkan kepada anak muda untuk bijak dalam menggunakan teknologi, bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Menurutnya, untuk menjadi seseorag yang update dalam hal teknologi, lantas tak melulu “nunduk” dengan gawai-gawai yang dimiliki.

Please social media wisely, enggak tiap hari mantengin sosial media untuk to be updated. To be updated adalah gimana caranya dapat menyaring informasi yang penting daripada nge-stalking hal-hal yang enggak penting. Yang penting misal, gimana caranya mempertahankan world piece, it is something you must research.”

 

COMMENT
500

Topcareer.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE